## Cinta yang Menjadi Perang Dingin Hujan kota Jakarta, seperti biasa, membasahi kaca apartemen Mei. Setiap tetesnya adalah *KENANGAN* yang gagal ia hapus dari ponsel. Di layar yang redup, sisa-sisa chat dengan Leo bertebaran seperti serpihan mimpi: *Leo: "Kopi lagi? Aku beliin yang rasa vanilla latte, ya?"* *Mei: "Nggak usah. Aku lagi pengen yang pahit, kayak hidupku."* *Leo: "Hei, ada aku di sini. Nggak boleh gitu."* Dulu, kata-kata itu adalah pelukan hangat. Sekarang, hanya notifikasi *TERAKHIR* yang tak pernah ia balas. Leo, arsitek muda dengan senyum yang bisa meruntuhkan tembok Cina, menghilang. Bukan menghilang fisik, tapi menghilang dari hatinya. Perang dingin dimulai saat satu pesan singkat dari nomor tak dikenal tiba: *"Leo bukan untukmu."* Mei, penulis lepas yang hidup dari *mimpi dan kafein*, memilih diam. Ia membiarkan rasa sakit itu membeku, menjadi kristal tajam yang menusuk setiap kali aroma kopi vanilla latte menyeruak. Ia tak mencari tahu, tak bertanya, tak menuntut. Sebuah *KEHILANGAN* yang samar, tanpa teriakan, tanpa pertengkaran. Hanya hening yang mencekik. Hari-hari berlalu. Mei menulis, menghasilkan cerita-cerita sedih tentang cinta yang kandas di tengah jalan. Setiap karakter yang ia ciptakan adalah refleksi dari dirinya dan Leo. Ia mencoba mencari jawaban dalam tulisan, mencari *MISTERI* di balik kepergian Leo. Suatu malam, saat badai petir mengamuk di luar, sebuah amplop cokelat tiba di depan pintunya. Tanpa nama pengirim. Isinya? Foto-foto Leo dan seorang wanita yang sangat mirip dengannya – bahkan terlalu mirip. Kembar identik. Di balik salah satu foto, tertera tulisan tangan Leo: *"Aku harus menjaganya, Mei. Dia sakit."* Rahasia itu terungkap. Leo pergi bukan karena tak cinta, tapi karena tanggung jawab. Ia mengorbankan kebahagiaannya demi adik kembarnya yang menderita penyakit langka. *PENGORBANAN* yang pahit, namun mulia. Mei terdiam. Kemarahan dan sakit hatinya perlahan mencair, digantikan oleh rasa iba dan *PENGHAYATAN*. Ia mengerti, tapi rasa sakit itu tetap membekas. Waktu bergulir. Mei memutuskan untuk melanjutkan hidup. Ia membuka kafe kecil di sudut kota, menamainya "Senja di Balik Jendela." Aroma kopi yang pahit dan manis bercampur, seperti kehidupan yang ia jalani. Suatu sore, seorang pria dengan jaket hitam masuk ke kafenya. Wajahnya tak asing. Itu Leo. Ia menatap Mei dengan tatapan penuh penyesalan. "Mei…" Mei mengangkat tangannya, menghentikan Leo. Ia tersenyum, senyum yang tulus namun *DINGIN*. "Sudah selesai, Leo. Dulu mungkin aku bodoh karena menunggu. Sekarang, aku memilih untuk melepaskan." Mei mengambil secarik kertas dan menulis sesuatu di sana. Ia menyerahkan kertas itu pada Leo. Itu adalah pesan terakhirnya, sebuah *BALAS DENDAM LEMBUT*: *"Semoga bahagiamu abadi, Leo. Aku? Aku akan menciptakan kebahagiaanku sendiri."* Ia berbalik, meninggalkan Leo yang terpaku di depan pintu. Mei berdiri di balik meja kasir, menatap pelanggan yang datang dan pergi. Ia merasa *KOSONG*, namun entah mengapa, juga *PUAS*. Ia menutup kafenya malam itu, meninggalkan lampu gantung menyala redup. Di atas meja, tergeletak buku catatan dengan satu kalimat terakhir: *Apakah benar cinta selalu *SEKEJAM* ini…*
You Might Also Like: Cerita Populer Aku Mencintaimu Dalam
Post a Comment