Pedang yang Menyimpan Kenangan Terakhir
Di kaki Gunung Tianmu, tempat awan berbisik dan angin membawa rahasia, berdirilah Desa Baihua. Di sanalah Lianhua dan Bai Jun, dua jiwa yang terikat sejak lahir, tumbuh bersama. Lianhua, si bunga teratai yang anggun, dan Bai Jun, si pemuda gagah berhati singa. Saudara seperguruan, sahabat sejati, dan sekutu abadi… atau begitulah yang tampak.
Lianhua selalu mengagumi Bai Jun. Keberaniannya di medan latihan, kebijaksanaannya di perpustakaan desa, semuanya terpancar bagai mentari pagi. Bai Jun, di sisi lain, melindungi Lianhua bagai nyawa sendiri. Senyumnya adalah pelipur lara, kehadirannya adalah kekuatan. Namun, di balik senyum dan tawa, tersembunyi jurang gelap yang menganga.
"Bai Jun, pedangmu menari bagai naga di angkasa," puji Lianhua suatu senja, saat mereka berlatih di bawah pohon plum yang sedang berbunga. Senyumnya lembut, namun matanya menyimpan tanya.
"Hanya berkat bimbinganmu, Lianhua. Kau adalah inspirasiku," balas Bai Jun, matanya berkilat aneh di remang senja. Dialog mereka selalu seperti ini: manis namun tajam, penuh makna tersirat.
Waktu berlalu. Desa Baihua diserang. Keluarga Lianhua tewas dalam kobaran api. Bai Jun adalah satu-satunya yang menemukannya, memeluknya erat di tengah puing yang berasap. "Aku bersumpah, Lianhua, aku akan membalaskan dendammu," bisiknya, suaranya bergetar.
Namun, keanehan mulai bermunculan. Bai Jun terlalu tahu detail serangan itu. Terlalu cepat dia menemukan Lianhua. Terlalu tenang dia saat desa mereka hancur lebur.
"Siapa yang melakukan ini, Bai Jun? Siapa yang berkhianat pada kita?" tanya Lianhua, suaranya dingin bagai es.
Bai Jun terdiam. Matanya berkilat. "Pengkhianat? Tidak mungkin. Kita semua setia pada Desa Baihua."
Lianhua mulai menyelidiki. Petunjuk demi petunjuk terkuak, membawanya menuju sebuah kebenaran yang mengerikan. Sebuah pedang kuno, bertatahkan giok hitam, ditemukan di dekat tempat kejadian. Pedang itu milik keluarga Bai. Pedang itu menyimpan kenangan.
Kenangan itu terputar dalam benak Lianhua bagai mimpi buruk. Bai Jun, anak haram dari pemimpin sekte sesat, sengaja menghancurkan Desa Baihua untuk membuktikan kesetiaannya. Keluarganya sendiri, keluarga Bai, mengkhianati mereka semua.
Malam itu, di kuil leluhur yang remang, Lianhua menghadapi Bai Jun. Pedang di tangannya bergetar, bukan karena takut, tapi karena amarah yang membara.
"Kau! Kau membunuh mereka! Kau menghancurkan segalanya!" teriak Lianhua, air mata mengalir di pipinya.
Bai Jun tidak menyangkal. Wajahnya dingin, datar. "Ya, Lianhua. Aku melakukannya. Aku harus membuktikan diriku. Aku harus menjadi kuat."
"Kuat? Kau pikir ini kekuatan? Kau hanyalah seorang pengecut! Seorang pengkhianat!" Lianhua menyerang.
Pertempuran sengit terjadi. Dua pedang berdansa dalam kematian. Percikan api memercik di kegelapan. Bai Jun, dengan seluruh kekuatannya, mencoba membela diri. Namun, hati Lianhua telah dipenuhi kebencian.
Akhirnya, pedang Lianhua menembus jantung Bai Jun. Dia jatuh berlutut, darah membasahi jubahnya.
"Kenapa, Bai Jun? Kenapa kau melakukan ini?" tanya Lianhua, suaranya lirih.
Bai Jun menatapnya, matanya dipenuhi penyesalan. "Aku… aku mencintaimu, Lianhua. Tapi cintaku… terlalu gelap untukmu."
Napas terakhirnya terhembus.
Lianhua berdiri di sana, di atas mayat sahabatnya, saudara seperguruan, dan pengkhianatnya. Kebenaran telah terungkap, namun hatinya hancur berkeping-keping. Balas dendam telah ditunaikan, namun kedamaian tidak datang.
Dengan suara bergetar, Lianhua berbisik pada malam yang sunyi: "Mungkin… mungkin jika aku tidak pernah mencintaimu, semua ini tidak akan pernah terjadi…."
You Might Also Like: Inspirasi Sunscreen Mineral Lokal Tanpa
Post a Comment