Ia Menatapku Seolah Tak Kenal, Padahal Aku Pernah Jadi Dunianya
Malam itu, salju turun seperti beludru putih yang menyesakkan. Angin mendesing di antara celah kuil kuno, membawa serta bisikan masa lalu yang pahit. Di tengah keheningan yang menusuk tulang, matanya menatapku. Dingin. Hampa. Seolah aku hanyalah debu.
Padahal, di tempat inilah, di bawah pohon sakura yang kini menggigil tanpa daun, janji itu terucap. Janji cinta abadi, yang kini terasa seperti kutukan yang menggerogoti tulang. Aku, Mei Lan, pernah menjadi dunianya. Dulu.
Kuil itu dipenuhi aroma dupa yang menyesakkan, bercampur dengan bau anyir darah. Di lantai marmer putih, noda merah membeku, saksi bisu pengkhianatan. Di hadapanku, berdiri Li Wei, pria yang dulu kurindukan lebih dari napasku sendiri. Sekarang, dia adalah musuhku.
"Kau… siapa?" tanyanya, suara serak dan tanpa emosi. Sebuah pisau perak berkilauan di tangannya, memantulkan cahaya obor yang menari-nari.
Hatiku mencelos. Kata-kata itu seperti es yang ditusukkan langsung ke jantungku. Lima belas tahun. Lima belas tahun aku memendam luka, menyusun kepingan dendam, dan dia… tidak mengenaliku?
"Kau lupa, Li Wei? Kau lupa malam di bawah sakura? Janji yang kau ucapkan dengan bibirmu sendiri? Atau mungkin… kau lebih memilih untuk melupakannya?" Suaraku bergetar, tapi mataku menantang.
Kilatan amarah sesaat melintas di matanya, kemudian hilang secepat kilat. "Aku tidak mengenalmu. Pergi dari sini."
Aku tertawa, tawa tanpa sukacita, hanya kepedihan yang meledak. "Kau pikir aku akan pergi? Setelah semua yang kau lakukan? Setelah kau menghancurkan hidupku, merenggut keluargaku, menginjak-injak hatiku?"
Aku maju selangkah. Di bawah kakiku, salju mencair, bercampur dengan darah yang belum mengering. "Aku datang untuk menagih janji, Li Wei. Janji yang kau buat di atas abu."
Malam itu, rahasia lama terkuak. Tentang konspirasi, tentang pengkhianatan, tentang cinta yang berubah menjadi obsesi. Aku menceritakan semuanya, setiap detail yang membara dalam ingatanku selama bertahun-tahun. Air mataku mengalir di antara asap dupa, jatuh seperti tetesan racun yang mematikan.
Li Wei terdiam, wajahnya pucat pasi. Masa lalu yang dia kubur rapat-rapat kini bangkit, menghantuinya. Dia tahu. Dia ingat.
Pertarungan pun dimulai. Bukan hanya pertarungan fisik, tapi juga pertarungan batin. Setiap tebasan pedang, setiap desah kesakitan, adalah ungkapan luka lama yang belum sembuh. Aku bertarung bukan hanya dengan pedang, tapi juga dengan kenangan. Kenangan manis yang kini terasa pahit seperti empedu.
Akhirnya, dia berlutut di hadapanku, darah mengalir dari lukanya. Matanya memohon. "Mei Lan… maafkan aku."
Maaf? Kata itu terasa seperti hinaan. Maaf tidak akan mengembalikan keluargaku. Maaf tidak akan menghapus luka di hatiku. Maaf… terlambat.
Aku mengangkat pedangku tinggi-tinggi. Bukan dengan amarah membabi buta, tapi dengan ketenangan yang mematikan. Dendamku bukan lagi tentang balas dendam yang keras, tapi tentang keadilan yang sunyi.
"Selamat tinggal, Li Wei. Semoga neraka menerimamu dengan tangan terbuka."
Pedang itu menebas, mengakhiri hidupnya dengan satu gerakan. Sunyi. Hanya suara salju yang terus berjatuhan, menutupi noda darah di lantai marmer.
Aku berbalik, meninggalkan kuil yang penuh kenangan dan kepedihan. Meninggalkan masa lalu yang selamanya akan menghantuiku. Meninggalkan jejak kaki di salju yang akan segera tertutup.
Balas dendamku telah selesai. Tapi… apakah hatiku benar-benar lega?
Udara dingin menusuk kulitku. Aku berjalan menuju kegelapan, membawa serta bayangan Li Wei, dan pertanyaan yang tak terjawab: Siapa yang sebenarnya menang malam ini?
Di kejauhan, suara gagak memecah keheningan. Bayangan di salju memanjang dan terdistorsi, menyiratkan bahwa balas dendam yang telah ditunaikan hanyalah awal dari KUTUKAN YANG ABADI.
You Might Also Like: 0895403292432 Jual Skincare Untuk Ibu
Post a Comment