Wajib Baca! Kau Berkata Aku Segalanya, Tapi Membuktikan Aku Bukan Apa-apa

Kau Berkata Aku Segalanya, Tapi Membuktikan Aku Bukan Apa-apa

Hujan gerimis membasahi Paviliun Magnolia. Aroma dupa cendana berpadu dengan aroma tanah basah, menyelimuti Ruo Lan dalam kesunyian yang menyesakkan. Di hadapannya, danau berkilauan redup, memantulkan bayangan rembulan yang terluka. Jemarinya yang lentik memetik senar guqin, melahirkan melodi sendu yang merobek kalbu. Setiap nada adalah tangisan yang tertahan, amarah yang dibungkam, dan kehancuran yang disembunyikan.

"Kau berkata aku segalanya, Kaisar," bisiknya pada angin, "Tapi kau membuktikan aku bukan apa-apa."

Tiga tahun lalu, Ruo Lan hanyalah seorang selir rendahan di istana yang megah namun dingin ini. Ia, dengan kepiawaiannya memainkan guqin dan kecantikannya yang mempesona, telah merebut hati Kaisar Li Wei. Ia menjadi permatanya, inspirasinya, dunianya. Kaisar berjanji akan memberinya bulan dan bintang, menjanjikan cinta abadi yang tak lekang oleh waktu.

Namun, janji hanyalah janji.

Lady Mei, seorang wanita dengan senyum manis mematikan, datang. Ia menari dengan anggun, menenun intrik dengan lihai, dan Kaisar Li Wei, seperti laron yang terpikat cahaya, perlahan menjauh dari Ruo Lan. Cinta yang dulu membara kini menjadi abu dingin. Ia diabaikan, dilupakan, ditinggalkan.

Ruo Lan memilih diam. Bukan karena lemah, tidak, bukan itu. Ia menyimpan rahasia. Rahasia yang bisa menghancurkan dinasti ini. Rahasia tentang kelahiran Kaisar Li Wei. Rahasia yang hanya ia dan mendiang Ibunya, Selir Yun, ketahui.

Setiap malam, Ruo Lan bermain guqin, mengirimkan pesan tersembunyi melalui melodi yang hanya bisa dipahami oleh satu orang: Jenderal Zhao, satu-satunya orang yang ia percaya. Ia bukan meminta bala bantuan; ia hanya menanam benih keraguan.

Misteri mulai menyelimuti istana. Desas-desus tentang asal-usul Kaisar Li Wei yang dipertanyakan mulai beredar di kalangan kasim dan dayang. Lady Mei, dengan kekuasaannya yang baru diraih, berusaha membungkam desas-desus itu, namun semakin ia berusaha, semakin kencang pula angin berbisik.

Jenderal Zhao, yang setia kepada mendiang Selir Yun, perlahan tapi pasti mengumpulkan bukti. Ia menemukan catatan tersembunyi di paviliun terpencil, surat-surat rahasia yang disembunyikan di balik lukisan.

Akhirnya, kebenaran terungkap. Kaisar Li Wei BUKANLAH putra kandung Kaisar sebelumnya. Ia adalah anak haram dari seorang selir rendahan dengan seorang pedagang kaya. Tahtanya dibangun di atas kebohongan dan pengkhianatan.

Istana gempar. Lady Mei, yang selama ini berpikir ia telah memenangkan hati Kaisar, mendapati dirinya terjerat dalam jaringan intrik yang ia tenun sendiri. Dukungannya runtuh, dan ia jatuh dari kekuasaan dengan tragis.

Kaisar Li Wei, yang hancur hatinya dan kehilangan tahtanya, diasingkan ke kuil terpencil. Ia ditinggalkan seorang diri, merenungkan dosa-dosanya.

Ruo Lan, masih duduk di Paviliun Magnolia, terus memainkan guqin. Lagunya kini bernada kemenangan yang pahit. Ia tidak pernah menginginkan kekerasan, ia hanya menginginkan keadilan. Dan takdir, dengan caranya yang aneh, telah memberikannya. Balas dendamnya hadir tanpa setetes darah pun tertumpah.

Ruo Lan menutup mata. Kebenaran telah terungkap, keadilan telah ditegakkan, namun luka di hatinya tak akan pernah sembuh.

Lagu guqin terhenti. Ruo Lan membuka mata, menatap danau yang tenang.

"Dia dulu bilang akan memberiku segalanya, padahal dia bahkan tidak bisa memberiku kebenaran..."

You Might Also Like: 63 Review Pembersih Wajah Centella

OldestNewer

Post a Comment