Judul: Dendam di Bawah Lentera yang Meredup Hujan menggigil di luar jendela. Seperti air mata yang tak kunjung kering, membasahi kaca yang buram. Di dalam kamar, aroma dupa cendana menyelimuti segalanya, berusaha menyembunyikan bau apak masa lalu yang membusuk. Xiao Mei menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya pucat, bayangan di bawah matanya menghitam, seperti jejak-jejak pengkhianatan yang tak terhapuskan. Lima tahun. Lima tahun sejak **ia** mengkhianatinya. Dulu, kamarnya adalah tempat tawa dan janji abadi. Dulu, dia, Li Wei, adalah mataharinya. Kini, hanya ada kepingan bayangan patah, mengingatkannya pada hatinya yang remuk redam. Li Wei datang. Tentu saja, dia datang. Selalu datang dengan senyum menawan yang dulu mampu melumpuhkan akal sehatnya. Senyum yang kini terasa seperti pisau berkarat yang siap mengoyak lukanya kembali. "Xiao Mei, kenapa kau selalu mengurung diri? Lihatlah, hujannya deras sekali." Suara Li Wei lembut, terlalu lembut. Seperti beludru yang menyembunyikan duri. Xiao Mei berbalik perlahan. Cahaya lentera di atas meja menari-nari, nyaris padam. "Bukankah kau yang menciptakan hujan ini, Li Wei? Bukankah kau yang merenggut matahariku?" Li Wei terdiam. Senyumnya memudar, digantikan raut sedih yang dibuat-buat. "Maafkan aku, Xiao Mei. Aku..." "Maaf?" Xiao Mei tertawa hambar. Tawa tanpa kebahagiaan, hanya nada pahit yang bergema di ruangan. "Maaf tidak akan mengembalikan nyawa yang hilang. Maaf tidak akan mengembalikan cintaku yang kau injak-injak!" Li Wei mendekat, mencoba meraih tangannya. Xiao Mei menghindar. "Jangan sentuh aku! Kau **MEMBERIKANKU KEMATIAN** lima tahun lalu. Sekarang... aku hanya hantu yang haus akan **KEADILAN!**" Di balik kata-kata yang terucap, Xiao Mei dapat merasakan amarahnya menggelegak. Dendam yang selama ini dipendamnya akhirnya menemukan jalannya keluar. Dia telah merencanakan ini. Setiap detil, setiap langkah, telah dihitung dengan cermat. Setiap senyum palsu, setiap kebaikan yang ditunjukkan Li Wei, hanya mempercepat jalannya menuju kehancuran. Lentera itu semakin redup. Bayangan mereka berdua menari-nari di dinding, seolah memperagakan drama tragis yang akan segera mencapai klimaksnya. "Kau tahu, Li Wei," bisik Xiao Mei, suaranya serak namun menusuk. "Aku selalu bertanya-tanya... siapa yang memerintahkanmu untuk membunuhku dulu?" *Dan air mata yang akhirnya tumpah menjadi jawaban atas pertanyaan itu.*
You Might Also Like: 10 10 Best Workout Log Apps Of 2022 Top
Post a Comment