**Racun Itu Manis, Karena Dicampur dengan Cinta** Kabut ungu menggantung di Danau Bulan Sabit, serupa kerudung pengantin yang tak pernah terangkat. Di tepinya, berdiri Paviliun Kupu-Kupu, lapuk dimakan waktu, namun menyimpan aroma kenangan yang lebih pahit dari akar *ginseng* liar. Di sanalah aku bertemu dengannya, **Lian Hua**, Bunga Teratai yang terlupa. Wajahnya pucat, seputih porselen Dinasti Ming yang retak. Matanya, dua kolam obsidian, menyimpan kesedihan abadi. Setiap gerakannya anggun bagai *burung phoenix* menari di atas awan, namun setiap langkahnya membisikkan kesendirian yang mendalam. Cintaku padanya, tumbuh bagai *bambu* di musim semi, menjulang tinggi tak tergapai. Kami bertemu dalam mimpi, di antara jalinan benang waktu yang kusut. Dia melukisku dengan *tinta air*, menciptakan aku dalam kanvas kesepiannya. Aku bernapas dalam aroma dupa cendana, hadir dalam setiap denyut nadinya yang lemah. Kami menari di bawah rembulan yang memudar, bibir kami bersentuhan di antara kelopak *sakura* yang berjatuhan. Aku mendengar ceritanya, kisah cinta tragis yang terkubur di antara reruntuhan kuil kuno. Seorang jenderal yang gagah berani, seorang putri yang memendam rahasia gelap, dan sumpah abadi yang dilanggar dengan kejam. Dia adalah reinkarnasi dari sang putri, terperangkap dalam siklus dendam dan penyesalan. Dan aku? Aku adalah *bayangan* dari sang jenderal, hadir untuk menebus dosa yang tak pernah kulakukan. Racun pahit itu bernama cinta, manis karena dicampur dengan harapan palsu. Setiap malam, dia memberiku secangkir teh pahit. Aku meminumnya tanpa ragu, merasakan *kebasnya* menyebar di seluruh tubuh. Aku tahu, teh itu mengandung racun. Tapi dalam pelukannya, racun itu terasa lebih manis dari madu. Karena di dalam racun itu, ada **CINTA** yang abadi. Suatu malam, saat rembulan bersinar penuh, rahasia itu terkuak. Aku menemukan lukisan di loteng Paviliun Kupu-Kupu. Lukisan diriku, persis sama dengan gambaran sang jenderal dalam legenda. Namun, di belakang lukisan itu, tersembunyi selembar perkamen. Di atasnya tertulis dengan tinta darah: *"Akulah yang meracuni sang putri. Aku tidak ingin dia bersama jenderal lain. Aku memilih kematian daripada perpisahan."* Lian Hua berdiri di belakangku, matanya berkaca-kaca. "*Maafkan aku*," bisiknya, suaranya bergetar. "Kau adalah reinkarnasi dari orang yang aku cintai... *dan orang yang membunuhku*." Racun itu bekerja lebih cepat dari yang kukira. Rasa manis yang menyakitkan, keindahan yang menusuk kalbu. Aku terbaring di pangkuannya, menatap bintang-bintang yang berjatuhan. **Aku adalah korban, dan dia adalah racunnya.** "Jangan lupakan aku..." bisiknya, dan suaranya menghilang ditelan angin.
You Might Also Like: Rahasia Face Wash Centella Asiatica
Post a Comment