Absurd tapi Seru: Ia Menyebutku Dalam Podcast, Tapi Tak Menyebut Namaku

Langit Jakarta abu-abu. Bukan abu-abu senja romantis, tapi abu-abu error. Seperti data korup yang menolak diurai. Di tengah hiruk pikuk aplikasi ojek online dan konser K-Pop yang tak pernah sepi, aku, Senja, tersesat. Bukan tersesat secara geografis, tapi jiwa.

Aku mencintainya.

Atau mungkin, aku mencintai gema suaranya.

Namanya Arjuna. Aku tak pernah bertemu dengannya secara fisik. Satu-satunya koneksiku adalah podcast yang ia unggah setiap malam. Judulnya absurd: "Kisah-Kisah Nostalgia, Sebelum Internet Menguasai Jiwa." Ia bercerita tentang kaset-kaset usang, telepon putar, dan aroma hujan di tanah. Hal-hal yang seharusnya tak ku tahu, tapi terasa familiar.

Suaranya… suara itu seperti bisikan angin di tengah noise abad 22. Damai. Menenangkan.

Suatu malam, di episode ke-77, ia menyebutku.

"Ada seorang pendengar," ujarnya, suaranya bergetar aneh, "yang bertanya apakah aku pernah merasa deja vu yang terlalu nyata. Jawabannya… iya. Aku merasa mengenal seseorang, seorang…Senja. Padahal, aku yakin belum pernah bertemu dengannya."

Jantungku berdebar seperti mesin rusak. Ia tahu aku ada. Ia menyebutku.

Tapi tidak menyebut namaku secara utuh. Hanya Senja. Seperti panggilan sayang yang belum selesai.

Aku mencoba menghubunginya lewat DM. Kosong. Akun Instagramnya dipenuhi foto-foto buram, seolah diambil dari dimensi lain. Ia hidup di masa lalu. Aku hidup di masa depan. Terjebak dalam sinyal yang hilang, chat yang berhenti di 'sedang mengetik', di antara distorsi waktu yang kejam.

Aku menggali informasi tentang dirinya. Ternyata, Arjuna adalah seorang penulis cerita pendek yang menghilang misterius di tahun 1998. Cerita terakhirnya berjudul: "Senja di Tengah Kota yang Retak."

RETAP?!

Aku menelusuri jejaknya, berharap menemukan jawaban. Aku mengunjungi perpustakaan kuno, mencari arsip berita, bahkan bertanya pada orang-orang tua yang masih mengingat namanya. Setiap petunjuk membawaku semakin dalam ke labirin waktu yang menyesatkan.

Suatu malam, aku menemukan sebuah kotak musik tua di loteng nenekku. Saat kubuka, melodi sendu mengalun. Melodi itu… sama persis dengan intro podcast Arjuna. Di dalam kotak, ada sepucuk surat. Tulisan tangannya… identik dengan screenshot chat Arjuna yang pernah kutemukan.

"Senja," tulisnya. "Jika kau membaca ini, berarti kita telah gagal. Dunia telah padam. Tapi ingatlah, cintaku padamu abadi. Ia akan terus beresonansi, menembus ruang dan waktu, seperti gema yang tak pernah benar-benar menghilang."

Di akhir surat, tertulis sebuah kode aneh: 404 NOT FOUND.

Semuanya terasa ganjil. Terlalu absurd. Apakah cinta kami hanya proyeksi memori? Apakah aku hanya karakter fiksi dalam cerita yang belum selesai? Apakah Arjuna hanya hantu dari masa lalu yang menghantui koneksi internetku?

Aku menatap langit abu-abu. Sinyal wi-fi mulai melemah. Baterai ponselku kritis. Dunia terasa sunyi, sepi.

Mungkin, inilah akhir cerita.

Atau mungkin… ini hanya awal dari kehidupan kita yang terhapus.

…Pesan terakhir: jangan lupakan aroma hujan di tanah sebelum…

You Might Also Like: Reseller Kosmetik Bisnis Rumahan Kota_19

Post a Comment