Drama Seru: Kau Memeluk Buku Yang Kuberikan, Seolah Di Dalamnya Ada Perasaanku

**Kau Memeluk Buku yang Kuberikan, Seolah di Dalamnya Ada Perasaanku** Hujan menyiram nisan batu itu, *dingin* seperti sentuhan tangan yang tak lagi bisa kurasakan. Di sinilah aku berdiri, terikat antara dunia yang hidup dan yang mati, menjadi bayangan yang menolak pergi. Aku adalah Lin, dan aku mati sebelum sempat mengatakan kebenaran. Dulu, aku hanyalah seorang pemuda biasa, penuh dengan mimpi dan perasaan yang kusimpan rapat-rapat di dalam hati. Aku memberikan sebuah buku pada Mei, gadis yang kucintai diam-diam. Bukan sekadar buku, namun sebuah **penitipan perasaan**. Di dalamnya, terselip surat yang tak pernah kuberi keberanian untuk kuserahkan langsung. Kini, aku melihatnya dari balik kabut tipis. Mei datang setiap sore, duduk bersimpuh di samping makamku. Ia memeluk buku itu erat-erat, seolah di dalamnya tersimpan seluruh jiwa dan ragaku. Apakah ia merasakan keberadaanku? Apakah ia membaca surat itu? Pertanyaan-pertanyaan itu menghantuiku, menciptakan gema yang tak pernah reda di dunia arwah. Aku kembali bukan untuk menuntut balas. Bukan pula untuk menghantui mereka yang mungkin terlibat dalam kematianku yang *misterius*. Aku kembali untuk **kedamaian**. Kedamaian untuk Mei, agar ia bisa melanjutkan hidupnya tanpa dibebani oleh kepergianku. Kedamaian untuk diriku sendiri, agar bisa melepaskan rantai yang mengikatku pada dunia ini. Setiap hari, aku mengamatinya. Melihat senyum tipisnya saat membaca buku itu, melihat air matanya yang menetes di atas halaman-halamannya yang usang. Aku ingin berbisik padanya, "Jangan bersedih, Mei. Aku baik-baik saja." Tapi suaraku hanya angin, sentuhanku hanya bayangan. Aku mulai mengumpulkan petunjuk, fragmen-fragmen kejadian yang terlewatkan saat aku masih hidup. Ternyata, kematianku bukan sekadar kecelakaan. Ada *konspirasi*, ada kebohongan yang disembunyikan di balik wajah-wajah yang tampak polos. Namun, semakin aku mendekati kebenaran, semakin aku menyadari bahwa **balas dendam tak akan membawaku kemana pun**. Yang kucari bukanlah keadilan, tapi *pemahaman*. Aku ingin Mei tahu bahwa aku mencintainya. Aku ingin ia mengerti bahwa aku pergi dengan membawa cintanya di dalam hatiku. Aku ingin ia bebas dari bayang-bayangku. Suatu sore, saat hujan turun lebih deras dari biasanya, Mei membuka buku itu. Matanya terpaku pada sesuatu. Ia mengeluarkan selembar kertas yang terselip di antara halaman-halaman itu. Suratku. Aku melihatnya membaca setiap kata dengan seksama. Air matanya mengalir semakin deras. Lalu, ia tersenyum. Sebuah senyum *tulus* dan *terang* yang belum pernah kulihat sebelumnya. Ia berdiri, meletakkan buku itu di atas nisan. Lalu, ia berbalik dan berjalan menjauh. Saat itulah aku mengerti. Kehadiranku di sini sudah tak lagi diperlukan. Mei sudah menemukan kedamaiannya. Dan dengan itu, aku pun merasa *ringan*. Aku berbalik, menatap langit yang mulai cerah setelah hujan. Dunia arwah memanggilku. Ini saatnya untuk pergi. *Mungkin, cinta itu memang abadi, meski hanya bisa diungkapkan dalam hembusan angin.*
You Might Also Like: 0895403292432 Reseller Skincare Bisnis

Post a Comment