FULL DRAMA! Aku Mencintaimu Meski Tuhan Melarang, Karena Kau Adalah Doaku Yang Gagal

Aku Mencintaimu Meski Tuhan Melarang, Karena Kau Adalah Doaku yang Gagal

Kabut tebal menyelimuti kota Nanjiang, sama pekatnya dengan rahasia yang membungkus hidupku dan hidupnya. Mei Hua, gadis dengan senyum secerah mentari pagi, namun menyimpan luka sedalam jurang. Aku, Lin Wei, tumbuh bersamanya di tengah kebun teh keluarga. Kami bukan saudara kandung, tapi ikatan kami lebih kuat dari darah. Atau begitulah yang KUPIKIR.

"Lin Wei, teh ini pahit. Sama pahitnya dengan kenyataan," ujarnya suatu sore, mata almondnya menatapku tajam. Di balik senyum manis itu, aku bisa merasakan duri yang siap menikam.

"Kenyataan seperti apa, Mei Hua? Bukankah hidup kita sempurna? Warisan keluarga, kebun teh yang luas..." balasku, kata-kata itu terasa seperti debu di lidahku. Aku tahu, ada sesuatu yang SALAH.

Dulu, kami adalah sekutu. Dua anak kecil yang bermain di antara rerimbunan teh, bermimpi tentang masa depan yang gemilang. Sekarang, kami adalah dua bidak catur dalam permainan yang jauh lebih besar, dimainkan oleh kekuatan yang tak kami mengerti.

Misteri mulai terkuak ketika surat wasiat kakekku dibacakan. Bukan aku, bukan Mei Hua, tapi KAMI BERDUA yang mewarisi kebun teh. Sebuah klausul aneh menyebutkan bahwa warisan hanya bisa dikuasai jika kami menikah.

"Ini gila! Kita... kita seperti saudara!" seruku, marah dan bingung.

Mei Hua tertawa dingin. "Saudara? Lucu sekali, Lin Wei. Kau tahu benar, kita BUKAN saudara. Ayahku... adalah ayahmu juga."

DEG! Jantungku berhenti berdetak. Kebenaran menghantamku seperti gelombang tsunami. Aku dan Mei Hua adalah saudara TIRI. Tapi... ada yang lebih buruk.

"Kau tahu, Lin Wei, ada alasan kenapa ibuku diusir dari keluarga. Ada alasan kenapa kau selalu diistimewakan. Karena..." Mei Hua mendekat, bisikannya bagaikan racun, "...ayahmu MEMBUNUH ayahku."

Balas dendam. Kata itu berputar-putar di kepalaku. Selama ini, Mei Hua menyimpan dendam kesumat, menunggu saat yang tepat untuk menghancurkan hidupku. Pertemuan kami, persahabatan kami, semua itu adalah kepalsuan yang dirancang dengan sempurna. Aku, yang bodoh, jatuh ke dalam perangkapnya.

Malam itu, di tengah badai yang mengamuk, kami bertemu di puncak bukit teh. Di tangannya, pisau belati berkilauan diterpa kilat.

"Aku mencintaimu, Lin Wei. Meski Tuhan melarang. Tapi cintaku ini telah ternoda oleh darah dan pengkhianatan. Kau harus MEMBAYAR."

"Kau juga mencintaiku? Lalu kenapa melakukan ini?" tanyaku lirih.

"Karena kau adalah doaku yang gagal. Doa agar keadilan ditegakkan, agar darah ayahku terbalaskan. Dan AKU akan menjadi tangan Tuhan."

Pisau itu melesat ke arahku. Aku menutup mata, menerima takdirku. Tapi kemudian, aku mendengar jeritan kesakitan. Ketika aku membuka mata, aku melihat Mei Hua terhuyung mundur, darah mengalir dari dadanya. Di belakangnya, pengawal setiaku, Lao Zhang, berdiri dengan pistol di tangannya.

"Maafkan saya, Tuan Muda. Saya tidak bisa membiarkan dia menyakiti Anda," kata Lao Zhang, suaranya bergetar.

Mei Hua menatapku dengan tatapan penuh penyesalan. "Lin Wei... jaga teh kita...". Lalu, matanya terpejam untuk selamanya.

Darahnya mengalir di tanah, membasahi akar teh. Aku berlutut di sampingnya, menggenggam tangannya yang dingin. Aku mencintainya, SELALU. Tapi cintaku telah membawanya pada kehancuran.

Di akhir hidupku, aku bertanya-tanya, siapa sebenarnya yang mengkhianati siapa...

You Might Also Like: 0895403292432 Distributor Skincare

Post a Comment