Kaisar itu Tersenyum di Akhir Perang, Karena Menemukan Cinta di Kehancuran
Debu beterbangan. Aroma darah dan abu menempel di udara, menyengat hidung. Kaisar Zhao Lian berdiri di atas reruntuhan Istana Jade, jubah kebesarannya compang-camping, senyum tipis bermain di bibirnya. Bukan senyum kemenangan, melainkan senyum pahit penerimaan. Perang panjang ini telah berakhir, kerajaannya hancur, tetapi di tengah kehancuran ini, ia menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga.
Dulu, di kehidupannya yang DULU, Zhao Lian adalah seorang tiran. Kekuasaannya mutlak, ambisinya membara, dan cintanya… hampa. Ia dibunuh oleh orang kepercayaannya, Jenderal Li Wei, yang haus kekuasaan. Kini, ia terlahir kembali sebagai anak seorang tabib desa, Zhen. Jauh dari kemewahan istana, dekat dengan alam dan rakyat jelata.
Awalnya, ia tak mengingat apa pun. Hanya kilasan mimpi buruk tentang darah dan pengkhianatan yang menghantuinya. Namun, saat ia mulai mempelajari pengobatan, saat ia melihat ketulusan hati orang-orang yang ia bantu, ingatannya mulai kembali. Potongan-potongan masa lalunya bermunculan, seperti kepingan kaca yang tajam.
Dan kemudian, ia bertemu Mei. Seorang gadis desa yang ceria, dengan mata sehangat mentari pagi. Mei mengingatkannya pada seseorang dari masa lalunya, seorang selir yang selalu tersenyum meskipun ia perlakukan dengan dingin. Ingatan itu menusuknya, rasa bersalah mulai menggerogotinya.
Suatu hari, seorang jenderal datang ke desa mereka, mencari tabib untuk mengobati luka-lukanya. Jenderal itu bernama… Li Wei. Wajahnya, suaranya, semua sama. Zhao Lian membeku. Dendam membara dalam dadanya. Ingin rasanya ia mencabut nyawa pria itu saat itu juga.
Namun, ia ingat akan Mei. Ia ingat akan kedamaian yang ia rasakan di desa ini. Ia ingat bahwa ia bukan lagi tiran yang haus darah. Ia telah belajar. Ia telah berubah.
Dengan tenang, Zhao Lian mengobati Li Wei. Saat mata mereka bertemu, Li Wei menunjukkan raut tidak nyaman. Sepertinya dia juga mengingat.
Zhao Lian tidak membunuh Li Wei. Ia tidak mengangkat pedangnya. Ia hanya menggunakan pengetahuannya, keahliannya, untuk memastikan bahwa Li Wei akan hidup… dalam kesakitan. Obat yang ia berikan akan membuatnya hidup, tetapi dengan penderitaan yang tak berkesudahan. Balas dendam yang halus, namun memuaskan.
Kaisar itu tersenyum saat matahari terbenam. Ia melihat Mei sedang bermain dengan anak-anak desa. Ia tahu, keputusannya telah mengubah takdir. Ia telah memilih cinta di atas kebencian, kedamaian di atas perang.
Ia mendekati Mei, meraih tangannya. Mata mereka bertemu, dan di kedalaman mata Mei, Zhao Lian melihat secercah ingatan yang sama. Ia tahu, perjalanannya belum berakhir. Ada janji yang terikat di antara mereka, janji yang akan ditepati, cepat atau lambat.
"Mungkin… di kehidupan selanjutnya…"
You Might Also Like: 0895403292432 Produk Skincare No
Post a Comment