Baiklah, ini dia kisah dracin tragis berjudul 'Bayangan yang Menunggu di Balik Pintu': **Bayangan yang Menunggu di Balik Pintu** Dulu, kami adalah *matahari kembar*. Aku, Lin Wei, dan dia, Jiang Chen. Tumbuh bersama di gang-gang sempit Kota Ping An, di bawah tatapan patung naga yang seolah mengawasi dosa-dosa kami. Saudara seperguruan di Kuil Shaolin, terikat sumpah darah di bawah pohon *Mei Hua* yang mekar setiap musim semi. "Wei," bisiknya suatu malam, bulan purnama menimpa wajahnya yang sempurna, "Kita akan menaklukkan dunia bersama." Aku tersenyum, senyum seorang anak kecil yang percaya pada keabadian. "Bersama, Chen. Sampai maut memisahkan." Tapi, maut datang lebih cepat dari yang kubayangkan. Dan itu *BUKAN* maut alami. Kuil terbakar. Guru kami, biksu kepala yang bijaksana, ditemukan bersimbah darah di ruang meditasinya. Pedang pusaka kuil, "Naga Terbang", lenyap. Tuduhan mengarah pada kami. Pengkhianatan menjalar seperti racun di pembuluh darah. "Wei, kita harus lari!" Chen menarik tanganku. "Mereka akan menyalahkan kita." Aku ragu. "Tapi, Chen...Guru..." "Guru sudah tiada. Sekarang, hanya ada KITA." Kami lari. Menjelajahi dunia yang luas dan berbahaya. Menjadi pembunuh bayaran, hidup dalam kegelapan, mengasah pedang kami. Aku selalu percaya, di lubuk hatiku yang paling dalam, bahwa Chen tidak bersalah. Bahwa ada dalang di balik semua ini. Aku bersumpah, akan menemukannya. Namun, bayangan masa lalu terus menghantui. Setiap senyum, setiap tawa, setiap janji, terasa seperti pisau yang berputar di dalam hatiku. Aku mulai memperhatikan hal-hal kecil. Tatapan mata Chen yang terlalu cepat berpaling. Pertemuan-pertemuan rahasianya di balik tirai malam. Senyumnya yang kini terasa...*DINGIN*. "Chen, siapa sebenarnya kau?" Aku bertanya suatu malam, di bawah rembulan yang pucat. Dia tertawa. Tawa tanpa kehangatan, tawa yang menusuk. "Pertanyaan bodoh, Wei. Aku adalah sahabatmu. Saudaramu. Apa lagi?" "KAULAH yang membunuh Guru, bukan?" Suaraku bergetar. Aku bisa merasakan dunia di sekitarku runtuh. Dia terdiam. Lalu, dengan nada yang datar, dia menjawab, "Guru adalah penghalang. Penghalang untuk kekuatan sejati." Air mata mengalir di pipiku. "Dan 'Naga Terbang'?" "Ada di tanganku, tentu saja." Dia menarik pedang itu dari balik jubahnya. Cahayanya memantulkan kegelapan di matanya. "Senjata untuk menaklukkan dunia. Dan kau, Wei, terlalu lemah untuk menggunakannya." Pengkhianatan itu *MEMBAKAR*. Pertarungan kami terjadi di bawah patung naga yang dulu menjadi saksi janji kami. Pedang beradu, menciptakan percikan api yang menari di kegelapan. Setiap tebasan, setiap tusukan, adalah luapan rasa sakit, amarah, dan *KEHILANGAN*. "Aku percaya padamu, Chen! Aku mempercayaimu!" Teriakku, sambil menangkis serangannya. "Kepercayaan adalah kelemahan, Wei. Dan kelemahan akan dihancurkan." Pertarungan berakhir dengan *DARAH*. Bukan hanya darahku. Tapi juga darah Chen. Aku berhasil merebut "Naga Terbang". Pedang itu terhunus, mengarah padanya. "Kenapa, Chen? KENAPA?!" Dia tersenyum. Senyum yang sama seperti dulu, senyum anak kecil yang percaya pada keabadian. "Kekuatan, Wei. Selalu tentang kekuatan." Aku menusukkan pedang itu. Bukan karena balas dendam. Tapi karena *KEWAJIBAN*. Aku harus melindungi dunia dari kegelapan yang telah merasuki hatinya. Saat dia tergeletak di tanah, napasnya tersengal-sengal, dia menatapku dengan mata penuh penyesalan. "Wei..." bisiknya, nyaris tak terdengar. "Semua ini...demi kita..." *“Setan yang paling licik pun, pernah menjadi malaikat yang terluka…”*
You Might Also Like: 122 Pdf Nitrogen Deposition May

Post a Comment