Baiklah, ini dia cerita pendek dengan gaya dracin yang kamu minta: **Cinta yang Terlambat Menyadari Luka** Di sebuah rumah teh di tepi Danau Barat, di bawah rembulan pucat yang menggantung bagai keping perak, duduklah aku, Lin Wei. Guqin di hadapanku, tak tersentuh. Jemariku terlalu kaku untuk menari di atas senar, melantunkan kesedihan yang telah lama kupendam. Lima tahun. Lima tahun aku menjadi istri dari Chen Yi. Lima tahun aku menyayangi pria yang ternyata... *mengkhianatiku.* Bukan dengan wanita lain. Bukan. Itu terlalu sederhana untuk drama yang sedang kumainkan. Chen Yi mencintai *kekuasaan*, dan demi mendapatkannya, ia menikahi wanita yang salah. Yaitu, aku. Awalnya, aku hanyalah bidak. Putri dari keluarga Lin yang bangkrut, dijodohkan dengannya untuk melancarkan bisnis keluarga Chen. Aku tahu, tentu saja aku tahu. Tapi aku *mencintainya.* Kebodohan seorang gadis muda. Dan cinta itu membuatku buta. Buta terhadap tatapan sinis ibu mertuaku, buta terhadap bisikan-bisikan di belakang punggungku, dan yang terpenting, buta terhadap kebenaran tentang Chen Yi. Aku memilih *diam.* Bukan karena aku lemah. Bukan. Aku menyimpan rahasia. Rahasia yang akan menghancurkan segalanya jika terungkap. Chen Yi, suamiku yang terhormat, ternyata memiliki penyakit jantung yang parah. Penyakit keturunan yang ia sembunyikan rapat-rapat. Jika penyakit itu terungkap, seluruh rencananya untuk mewarisi kekayaan keluarga akan *gagal.* Aku tahu, karena akulah satu-satunya dokter yang mengetahui rahasia itu. Lima tahun aku menjaga rahasia itu. Lima tahun aku membiarkan dia bermain-main dengan hatiku, dengan perasaanku. Aku pura-pura tidak tahu saat ia bersekongkol dengan musuh-musuhku, saat ia merendahkanku di depan umum. Aku menelan semua *luka* itu, diam-diam. Aku memilih untuk menunggunya. Menunggu saat yang tepat. Lalu, saat itu tiba. Sebuah surat kaligrafi berwarna merah tiba di rumah kami. Surat itu berisi undangan pesta ulang tahun ke-60 ayah Chen Yi. Pesta yang akan menjadi penentuan siapa yang akan menjadi pewaris tunggal kerajaan bisnis keluarga Chen. Malam itu, Chen Yi tampak gagah dengan jubah brokat berwarna biru tua. Aku, dengan gaun sutra putih polos, hanya tersenyum tipis. Aku tahu apa yang akan terjadi. Di tengah pesta, saat Chen Yi sedang berpidato dengan penuh percaya diri, ia tiba-tiba memegangi dadanya. Wajahnya memucat. Ia terhuyung. Aku tahu saatnya telah tiba. Aku tetap berdiri di tempatku, *diam.* Aku tidak berlari menghampirinya. Aku tidak berteriak minta tolong. Aku hanya memperhatikan, dengan tatapan dingin, saat ia jatuh ke lantai. Kerumunan panik. Para dokter bergegas menghampirinya. Tapi sudah terlambat. Chen Yi, suamiku, kekasihku, pengkhianatku… meninggal di tempat. Ibunya menjerit histeris, menyalahkanku. Tapi aku tetap diam. Keesokan harinya, wasiat dibacakan. Dan di sanalah letak *misterinya*. Ayah Chen Yi, sebelum meninggal, telah mengubah wasiatnya. Ia tahu tentang penyakit Chen Yi. Ia tahu bahwa Chen Yi tidak layak mewarisi kekayaan keluarga. Lalu, siapa yang ia pilih? *Aku*. Ia mewariskan segalanya kepadaku, menantu yang selama ini ia remehkan. Ia percaya bahwa aku, dengan ketenangan dan kecerdasanku, akan mampu mengelola bisnis keluarga lebih baik dari putranya sendiri. Balas dendamku? Tidak ada kekerasan. Tidak ada air mata. Hanya *takdir* yang berbalik arah. Pahit memang, tapi indah. Sekarang, aku berdiri di sini, di rumah teh ini, menunggu pagi tiba. Aku memenangkan segalanya, tapi kehilangan segalanya. Dan aku bertanya-tanya, apakah Chen Yi, di akhirat sana, akhirnya menyadari betapa besar cintaku, dan betapa dalamnya *luka* yang ia torehkan… …atau mungkin, rasa sakit itu abadi.
You Might Also Like: Diskon Skincare Lokal Berkualitas Beli
Post a Comment