Kau Menatapku Tanpa Takut
Lampu-lampu istana berkelip redup, memantulkan cahaya ke lantai marmer yang dingin. Di singgasana tinggi, aku duduk, bukan sebagai penguasa yang disegani, tapi sebagai tahanan dalam sangkar emas. Semua orang menunduk di hadapanku, kecuali kau. Mata hazelmu, sehangat mentari pagi, menatapku tanpa gentar, tanpa rasa hormat, juga tanpa kebencian. Hanya... kekosongan.
Dulu, aku pikir kita memiliki segalanya. Cinta, ambisi, dan impian akan masa depan yang cerah. Tapi kemudian, badai itu datang. Pengkhianatan. Kau menikamku dari belakang, bukan dengan pedang, tapi dengan kata-kata yang lebih tajam dari baja. Dan aku, memilih diam. Bukan karena aku lemah, bukan sama sekali.
Aku menyimpan rahasia. Rahasia yang jika terungkap, akan menghancurkan segalanya. Rahasia tentang warisan terkutuk keluarga kerajaan. Rahasia tentang ritual kuno yang mengikatku dengan takdir yang kejam.
Malam-malamku dipenuhi suara guqin yang lirih, melantunkan kesedihan dan penyesalan. Aku merindukan tawa renyahmu, sentuhan lembutmu. Tapi yang kurasakan hanyalah dinginnya kesepian.
"Yang Mulia tampak murung malam ini," suara itu mengagetkanku. Menteri Zhang, tangan kanan sekaligus mata-mata yang licik. Tatapannya menusuk, seolah mampu menembus kedalaman jiwaku.
Aku hanya tersenyum tipis. "Hanya sedikit lelah, Menteri Zhang."
Misteri mulai terkuak ketika aku menemukan simbol aneh terukir di gagang pedang kesayanganku. Simbol itu... sama persis dengan yang ada di gelang giok peninggalan ibuku. Gelang yang selalu kurahasiakan.
Gelang itu... bukan sekadar perhiasan. Itu adalah kunci. Kunci untuk membuka portal ke dimensi lain. Dimensi tempat kekuatan sejati keluarga kerajaan bersembunyi. Dan kau... kau tahu tentang itu, bukan?
Kau adalah bagian dari mereka. Kelompok pemberontak yang ingin merebut kekuasaan, yang ingin menghancurkan garis keturunanku. Tapi mengapa kau tidak membunuhku saja? Mengapa kau memilih untuk menikamku dengan pengkhianatan yang menyakitkan?
Semuanya menjadi jelas saat malam bulan purnama. Kau berdiri di hadapanku, di tengah halaman istana yang sunyi. Di tanganmu tergenggam gelang giok yang sama persis dengan milikku. Kembar.
"Kau adalah saudara kembarku, yang disembunyikan sejak lahir," kataku, suaraku bergetar. "Kau dilatih untuk menghancurkanku."
Kau tidak membantah. Hanya menatapku dengan tatapan kosong yang sama.
Tapi aku tahu. Aku tahu bahwa di balik tatapan itu, ada keraguan. Ada sisa-sisa cinta yang belum padam.
Aku membiarkanmu mengambil kekuasaan. Aku membiarkanmu menggantikanku di singgasana. Aku membiarkanmu menjalankan rencana jahatmu.
Bukan karena aku menyerah. Tapi karena aku tahu, takdir punya rencana lain. Kekuatan kutukan itu... tidak bisa dikendalikan. Ia akan berbalik, menghancurkan siapa pun yang berani menyalahgunakannya.
Dan benar saja.
Beberapa bulan kemudian, kudengar kabar tentang kekacauan di istana. Tentang penyakit misterius yang menyerang para pemberontak. Tentang kekuatan gelap yang menghantui istana.
Takdir telah berbalik. Balas dendam telah datang, bukan dari tanganku, tapi dari kekuatan yang lebih besar dari kita berdua.
Aku meninggalkan istana, berjalan menyusuri jalan setapak yang berdebu. Aku menoleh ke belakang, menatap istana yang mulai ditelan kegelapan. Aku tahu, kau sedang menungguku. Kau tahu, aku adalah satu-satunya yang bisa menghentikan kutukan itu.
Tapi aku tidak akan kembali.
Biarkan takdir menyelesaikan urusannya. Biarkan kau merasakan pahitnya pengkhianatan. Biarkan semuanya berakhir dengan cara yang seharusnya.
Udara terasa dingin, menusuk tulang. Aku menarik napas dalam-dalam, merasakan angin berbisik di telingaku.
Kutukan ini... terlalu dalam untuk disembuhkan, bukan begitu?
You Might Also Like: Elimina Ese Chupeton Al Instante Con
Post a Comment