Bayangan Yang Terpahat Di Dalam Ingatan

Baiklah, ini dia kisah Dracin tragis berjudul 'Bayangan yang Terpahat di Dalam Ingatan': **Bayangan yang Terpahat di Dalam Ingatan** Hujan abu menyelimuti Kota Terlarang, persis seperti kenangan yang terus menghantuiku. Mei Hua dan aku, dua kuntum teratai yang tumbuh di rawa yang sama. Dulu, kami menyebut diri saudara. Sekarang, kami hanya _musuh_ yang terikat oleh janji berdarah. "Mei Hua," desisku di tengah malam yang dingin, napasku mengepul di udara. Dia berdiri di balkon istana, siluet anggunnya terpahat di antara pilar-pilar batu. "Kau ingat malam itu? Malam ketika kembang api menerangi langit, dan kita berjanji setia selamanya?" Dia berbalik, senyumnya tipis dan berbahaya. "Tentu saja, Lian Yu. Janji yang kau khianati dengan begitu *mudah*." Setiap kata yang terucap adalah duri yang menghunus jantung. Mei Hua dan aku, putri dari dua jenderal besar yang bersaing untuk kekuasaan. Persahabatan kami, yang dipupuk sejak kecil, adalah satu-satunya jembatan antara dua keluarga yang saling bermusuhan. Tapi jembatan itu runtuh. Rahasia itu… Rahasia tentang malam pembantaian di desa kelahiranku. Ayah Mei Hua memerintahkan pembantaian itu, menghapus seluruh desa dari peta untuk menutupi jejak pengkhianatan pada kaisar. Aku menyaksikan semuanya, bersembunyi di balik tumpukan mayat, *hidup* karena belas kasihan yang mengerikan. Aku bersumpah untuk membalas dendam. "Kau tahu, Lian Yu," bisik Mei Hua, matanya berkilat seperti pedang yang diasah. "Aku selalu bertanya-tanya, siapa yang lebih pandai berbohong di antara kita." Permainan dimulai. Aku, dengan senyum manis dan kepatuhan yang sempurna, naik ke tampuk kekuasaan. Aku menikahi putra mahkota, mengumpulkan sekutu, dan menunggu waktu yang tepat untuk menusuk dari belakang. Mei Hua, di sisi lain, menjadi penasihat utama kaisar, menggunakan kecerdasannya untuk memanipulasi takdir kerajaan. Dia tahu rencanaku. Dia menungguku. Bertahun-tahun berlalu, diwarnai intrik istana, pengkhianatan, dan pembunuhan terselubung. Setiap langkah yang kuambil, Mei Hua selalu selangkah di depan. Dia mengorbankan bidak, mengatur jebakan, dan mengarahkanku menuju kehancuran. Malam ini, kehancuran itu tiba. "Aku tahu," kataku, suaraku bergetar, "Ayahmu yang membantai desaku." Mei Hua tertawa, tawa tanpa kehangatan. "Kau terlambat, Lian Yu. Ayahku sudah lama mati. Dan rahasia itu… terkubur bersamanya." "Tidak. Aku tahu kau *menyimpan* bukti itu. Surat perintah yang ditandatangani oleh ayahmu. Bukti yang akan menjatuhkan seluruh dinasti!" Mei Hua terdiam. Untuk sesaat, topengnya runtuh, memperlihatkan kilasan kesedihan dan penyesalan yang mendalam. Tapi itu hanya sesaat. "Kau benar," katanya, dan mengeluarkan gulungan usang dari balik jubahnya. "Ini yang kau cari." Dia melemparkannya kepadaku. Aku menangkapnya dengan gemetar. "Tapi kau salah paham, Lian Yu. Aku *melindungi* surat ini. Untuk melindungimu." Aku mengerutkan kening. "Melindungiku? Dari apa?" "Dari kebenaran yang lebih pahit," jawabnya. "Ayahmu… dia terlibat dalam pembantaian itu. Dia adalah kaki tangan ayahku." Dunia berputar di sekelilingku. *Tidak*. Ini tidak mungkin. "Itu bohong!" teriakku, dadaku sesak. Mei Hua menggeleng. "Bukan bohong, Lian Yu. Surat itu juga berisi bukti keterlibatan ayahmu. Aku menghancurkan semua bukti lainnya, kecuali ini. Aku ingin *melindungimu* dari mengetahui kebenaran." Aku hancur. Semua yang kupercaya, semua yang kuperjuangkan, runtuh di hadapanku. Aku membalas dendam pada orang yang salah? Aku mengkhianati teman yang mencoba melindungiku? "Kenapa?" bisikku, air mata mengalir di pipiku. "Kenapa kau tidak memberitahuku?" "Karena aku tahu kau tidak akan mempercayaiku," jawabnya. "Karena aku tahu kau akan lebih memilih hidup dalam kebohongan daripada menerima kebenaran yang menghancurkanmu." Dia benar. Aku mengangkat belati di tanganku, tanganku bergetar. Aku seharusnya membunuhnya. Aku seharusnya membalas dendam. Tapi bagaimana bisa? "Lian Yu," bisiknya, suaranya lembut. "Aku tahu kau akan melakukan ini." Dia menutup matanya, pasrah. Aku menusuk. *** Saat Mei Hua tergeletak di lantai, darah membasahi gaun sutranya, dia membuka matanya, menatapku dengan senyum samar. "Maafkan aku," bisiknya. "Aku… selalu *mencintaimu*." Lalu dia menghembuskan napas terakhirnya. Aku berlutut di sampingnya, air mata membasahi wajahku. Aku telah membunuh orang yang paling kucintai, karena kebohongan yang telah kupeluk erat-erat. Aku memegang surat di tanganku, bukti pengkhianatan ayahku. Aku tahu apa yang harus kulakukan. Aku akan mengungkap kebenaran. Aku akan menghancurkan dinasti. Aku akan membalas dendam atas nama semua orang yang telah dirugikan. Tapi sebelum itu, aku ingin dia tahu... "Aku...Aku juga menyayangimu, Mei Hua... *Maafkan aku*..."
You Might Also Like: Kelebihan Rekomendasi Face Wash Untuk

Post a Comment