**Kau Menatapku dari Kejauhan, Tapi Jarak Itu Lebih Tajam dari Pedang** Hujan jatuh di atas makamnya, air mata langit yang tak pernah berhenti. Suara *rintiknya* seperti bisikan-bisikan arwah, menyelimuti nisan dingin itu. Di sanalah ia berdiri, Lin Wei, tidak lagi bernafas namun masih *terikat*, menjadi bayangan yang menolak pergi. Ia menatap mansion megah di kejauhan, tempat kehidupannya dulu terhenti tiba-tiba. Tangan yang kini transparan terangkat, seolah ingin meraih kembali mentari yang telah tenggelam. Kebenaran tertahan di tenggorokannya ketika nyawanya direnggut paksa. Sebuah kebenaran yang kini menjadi beban, sebuah sumpah yang belum terucap. Lin Wei kembali sebagai roh. Bukan untuk membalas dendam, meski darahnya mendidih mengingat pengkhianatan. Bukan untuk menuntut keadilan, karena di dunia ini, keadilan seringkali buta dan tuli. Ia kembali untuk menuntaskan apa yang tertinggal, untuk membebaskan dirinya dari belenggu masa lalu. Dulu, ia mencintai Chen Yi. Sungguh. Cinta yang tulus, cinta yang membuatnya rela menyerahkan segalanya. Namun, cinta itu dikhianati, dihancurkan oleh ambisi dan kekuasaan. Chen Yi menginginkannya hanya sebagai pion dalam permainannya, bukan sebagai wanita yang dicintai. Setiap malam, Lin Wei mengembara di sekitar mansion, mencari petunjuk, mencari jawaban. Bayangannya melayang di koridor-koridor gelap, melewati potret-potret keluarga yang tersenyum sinis. Ia melihat Chen Yi, kini lebih berkuasa dan lebih dingin dari sebelumnya. Mata itu kosong, seolah jiwanya telah lama mati. Ia menemukan catatan harian tersembunyi, sebuah pengakuan dosa yang ditulis dengan tinta bergetar. Di sanalah terungkap kebenaran yang selama ini dicari. Bukan Chen Yi yang bertanggung jawab atas kematiannya, melainkan **Ayahnya sendiri**. Ayahnya yang ambisius, yang rela mengorbankan putrinya demi kekuasaan. Chen Yi, ternyata, berusaha melindunginya, namun terlambat. Rasa sakitnya berubah menjadi kelegaan yang aneh. Kebenciannya sirna, digantikan oleh _penerimaan_. Ia tidak lagi ingin membalas dendam. Ia hanya ingin **kedamaian**. Ia hanya ingin terbebas dari beban masa lalu, agar bisa melangkah menuju kehidupan selanjutnya. Lin Wei berdiri di depan Chen Yi, memandangnya dengan tatapan lembut. Chen Yi, meski tak bisa melihatnya, merasakan kehadiran aneh. Ia menatap ke arah Lin Wei berada, matanya berkaca-kaca. Lin Wei tersenyum. Ia membisikkan kata maaf, kata perpisahan, kata cinta yang tak pernah terucap. Ia memaafkan Chen Yi, memaafkan ayahnya, dan yang terpenting, memaafkan dirinya sendiri. Cahaya bulan menyinari wajahnya, memberikan kehangatan di tengah malam yang dingin. Ia merasakan sentuhan lembut di pipinya, seperti belaian angin. Bebannya terangkat, jiwanya ringan. Ia siap untuk pergi. *Mungkin...* arwah itu baru saja tersenyum untuk terakhir kalinya.
You Might Also Like: Produk Skincare No Alkohol Dan No
Post a Comment