Dracin Terbaru: Aku Berjanji Melindungimu, Tapi Dunia Tak Membiarkan.

Oke, ini dia kisah pendek yang saya buatkan, terinspirasi dari premis yang kamu berikan: **Di Bawah Payung Hujan yang Gigil** Hujan merajam atap paviliun, setiap tetesnya terasa seperti jarum menusuk kulit. Di dalam, aroma teh pahit mengepul tipis, nyaris tak mampu mengusir dingin yang mencengkeram tulang. Lin Wei berdiri di ambang pintu, menatap hamparan kabut yang menyelimuti taman. Bayangannya memanjang, **PATAH** oleh cahaya lentera yang redup. Dulu, taman ini adalah saksi bisu cinta mereka. Sekarang, hanya menyimpan gema tawa yang hilang, bisikan janji yang dilupakan. "Sudah lama sekali, Lin Wei," suara itu memecah keheningan. Han Yu berjalan mendekat, wajahnya dipahat kesedihan dan kerut penyesalan. Di matanya, Lin Wei masih melihat kilatan pria yang dulu dicintainya, pria yang berjanji melindunginya, pria yang *mengkhianatinya*. "Han Yu," balas Lin Wei, suaranya setajam pecahan kaca. "Atas dasar apa kau datang kemari?" Han Yu terdiam. Hujan semakin deras, membasahi jubahnya. Dia mengulurkan tangan, ragu-ragu. "Aku... aku ingin menjelaskan." Lin Wei tertawa sinis. "Menjelaskan? Menjelaskan bagaimana kau menusukku dari belakang? Menjelaskan bagaimana kau merebut semuanya dariku? **TERLAMBAT.**" Mereka terpisah lima tahun lalu. Han Yu, karena ambisi dan tekanan keluarga, menikahi wanita lain. Wanita yang berkuasa, wanita yang bisa memberinya segalanya. Lin Wei ditinggalkan, hancur berkeping-keping. Selama bertahun-tahun, dia membangun kembali dirinya. Dengan susah payah, dia mendaki tangga kekuasaan, mengumpulkan informasi, menyusun rencana. Setiap malam, di bawah cahaya lentera yang berkedip, dia merencanakan. Dendam adalah bahan bakar yang membara di dalam hatinya. "Aku tahu aku salah, Wei. Aku sangat menyesal," desis Han Yu, suaranya tercekat. "Aku tahu, aku tidak pantas dimaafkan. Tapi aku datang untuk menebus..." Lin Wei mengangkat tangannya, menghentikan Han Yu. Dia mendekat, wajahnya dingin dan tanpa ekspresi. "Penebusan? Kau pikir itu semudah itu? Kau pikir maaf bisa mengembalikan semua yang telah hilang?" Dia menatap Han Yu dalam-dalam, matanya berkilat dengan amarah yang terkendali. "Kau tahu, Han Yu? Selama ini, aku bertanya-tanya... bagaimana rasanya merebut kembali semua yang *kau* miliki. Merasakan *keputusasaan* yang dulu kurasakan." Lentera di dekat mereka berkedip sekali lagi, lalu padam. Ruangan itu gelap gulita, hanya diterangi kilat sesaat. Di bawah kilatan itu, Lin Wei tersenyum. Senyum yang tidak pernah dilihat Han Yu sebelumnya. Senyum yang menakutkan. "Kau tahu, Han Yu," bisik Lin Wei, suaranya bagaikan desiran angin. "Rahasia yang kau simpan selama ini... tentang kematian ayahku... **AKU TAHU SEGALANYA.**"
You Might Also Like: 0895403292432 Reseller Kosmetik

Post a Comment